Jumat, 09 Maret 2012

Pengorbanan Pohon Apel

untitledbmp1

Suatu ketika,hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel pun sangat mencintai anak lelaki itu. waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi, ” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan , tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel  itu menyahut, “Duh maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Lalu ia memetik semua buah apel yang ada di pohon itu, dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki itu tak datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel itu sangat senang senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu memotong semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Lalu ia pergi berlayar dan tak datang lagi menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa aku pun sudah tidak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga sudah tak memiliki batang dan dahan untuk kau panjat,” kata pohon apel itu.
“Sekarang aku sudah tua untuk melakukan itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku sudah tak punya apa-apa lagi  yang bisa kuberikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku sudah tak memerlukan apa-apa lagi sekarang, ” kata anak lelaki itu.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Kemarilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

boy-and-the-apple-tree-23

Note:
Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda kita senang bermain-main dengan ayah & ibu kita. Ketika kita tumbuh besar kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita membutuhkan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar kepada pohon apel itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Dan yang terpenting adalah cintailah oang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang bahwa kita sangat menyayanginya. Dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...