Sunday, March 6, 2011

Beberapa orang memang terlahir pesimis!

Pernahkah kita mengenal seseorang yang selalu merasa pesimis setiap saat, merasa bahwa setiap kesempatan selalu menjauh darinya dan setiap waktu yang dimilikinya tidak pernah terasa cukup?. Sebagai seorang sabahat, kita akan selalu memberikan dorongan dan motivasi untuknya walaupun usaha kita selalu berujung pada kegagalan.


Memang terdengar menyedihkan, tapi sepertinya ada di antara kita yang memang terlahir sebagai orang yang pesimistis. Orang yang secara genetis mudah memproduksi zat kimia otak yang mengontrol selera dan stres dalam jumlah sedikit, memiliki risiko lebih besar untuk terkena depresi berat, kata para peneliti.

Zat yang disebut sebagai molekul neuropeptida Y (NPY) tersebut mengatur respons otak terhadap rangsangan negatif dan respons terhadap rasa sakit. Menurut peneliti dari University of Michigan, temuan ini bisa jadi diagnosis awal untuk mengatasi depress dan penyakit kejiwaan lainnya.

"Kami berhasil mengidentifikasi sebuah penanda biologis—dalam hal ini variasi genetis—yang terkait dengan tingginya kasus depresi, kata Jon-Kar Zubieta, salah satu anggota tim peneliti.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of General Psychiatry ini menggunakan tiga metode. Pertama, peneliti mengelompokkan subjek relawan menjadi tiga kategori berdasarkan ekspresi NPY-nya: rendah, sedang, dan tinggi. 

Lalu, dengan menggunakan instrumen pencitraan resonansi magnetik (MRI), otak relawan yang dipaparkan pada beberapa kata berbeda—ada yang bermakna netral (seperti benda), ada yang negatif (bunuh), dan ada yang positif (harapan) —pun dianalisis. Hasilnya, grup relawan dengan NPY rendah menunjukkan peningkatan aktivitas korteks prefrontal (bagian yang berkaitan dengan emosi), sementara grup dengan NPY tinggi menunjukkan respons yang lebih ringan.

Percobaan kedua adalah dengan memberikan rasa sakit selama 20 menit, menggunakan cairan saline yang disuntikkan ke otot-otot rahang relawan. Hasilnya sama: kelompok NPY rendah amat terpengaruh secara emosional sebelum dan sesudah rasa sakit.
Brian Mickey, ketua tim peneliti berharap penanda genetis ini "bisa dijadikan pijakan untuk mengatasi risiko depresi.".


source :dailymail.com

No comments:

Post a Comment